Social Icons

Welcome!!

March 08, 2014

Sejarah Semen

Joseph Aspdin (1788-1855)

 
Siapa Penemu Semen? Sebenarnya, orang-orang Mesir telah membuat semen sejak lima ribu tahun yang lalu, dengan cara mencampurkan batu dan kapur yang dibakar. Kemudian, orang-orang Romawi mengembangkan proses awal itu, dan hasilnya digunakan untuk membangun cukup banyak gedung, termasuk di Inggris. Namun, orang yang dianggap sebagai penemu semen sebagaimana yang kita kenal sekarang ini adalah Joseph Aspdin. Sejak tahun 1811, ia telah bereksperimen untuk menciptakan formula yang tepat dalam rangka memperkuat adonan yang ditujukan untuk pembangunan gedung. Hasilnya kemudian adalah semen yang ia namai “Semen Portland”, karena warnanya menyerupai batu Portland. Pada 10 Januari 1824, Joseph Aspdin mendapatkan hak paten atas semen hasil temuannya tersebut, dan sampai saat ini Semen Portland masih banyak digunakan di dunia untuk pembangunan gedung dan rumah-rumah. Sejak Joseph Aspdin menciptakan Semen Portland, penelitian ilmiah mengenai semen semakin giat dilakukan, dan sejak itu beberapa produk semen lain mulai lahir. Dua merek yang awal muncul pada masa itu adalah Semen Smeaton dan Semen Romawi.

Sejarah Accumulator


 
 Energi listrik digunakan luas hampir di seluruh aspek kehidupan oleh karenanya memegang peran penting didunia teknik. Kelemahan energi listrik yang sangat prinsip terletak pada fakta bahwa proses pembentukan dan penggunaan (generate & consume) energi listrik biasanya berbanding lurus, pada saat yang bersamaan. Kita tidak bisa memproduksi lalu menyimpan energi listrik begitu saja dengan alat yang sederhana. Sudah menjadi hukumnya bahwa energi listrik yang kita gunakan harus berasal langsung dari sumbernya.

Dalam volume yang sedikit, energi listrik bisa disimpan dalam sebuah kapasitor dan hanya dapat digunakan terbatas untuk menyuplai daya pada peralatan yang membutuhkan energi listrik yang kecil pula. Untuk disimpan dalam skala yang lebih besar, energi listrik pertama-tama harus dikonversikan dulu kedalam bentuk energi yang lain. Pengetahuan tentang elektrokimia menjawab tantangan masalah ini yaitu tugas "MENYIMPAN" listrik agar bisa digunakan setiap waktu yang berbeda beda sesuai kebutuhan, serta dapat dipindah pindahkan. Alat penyimpan energi listrik itulah yang kemudian kita kenal dengan nama akumulator, accu, atau lebih sering disebut Aki.

Sejarah Penemuan system energi elektrokimia
Investigasi ilmiah mengenai kelistrikan dimulai ketika Tn Luigi Galvani (1737-1798) serta Tn.Alessandro di Volta (1745-1827) aktif melakukan temuan temuan penting. Kedua nama ini , sampai detik ini masih digunakan di dunia teknik kelistrikan , istilah "Galvanic cell" dan "Volt" .masih sering kita dengar. Temuan temuan penting hasil eksperimen keduanya antara lain Tahun 1789 Galvani menemukan adanya fenomena elektrokima kelistrikan

Volta membangun sumber energi listrik pertama secara elektrokimia , dunia ilmu pengetahuan kemudian mengenal satuan "Volt" sebagai besaran untuk mengukur tegangan istrik.

Tahun 1802 Johann Wilhem Ritter menciptakan battery yang pertama yang dinamakan "Ritter Pile". Semenjak itulah berbagai temuan dan development berkembang pesat seiring dengan temuan bola lampu oleh Thomas Alfa Edison dan diperkenalkannya Dynamo diberbagai peralatan yang ditemukan sesudah Revolusi Industri di Inggris pada akhir abad ke 19.

Produksi "LEAD Battery" pertama dipatenkan oleh Faur pada tahun 1880 disusul oleh Jungner dan Edison tahun 1899 dan 1901 dengan menggunakan nikel-cadmium dan diproduksi masal tidak lama kemudian. Masih banyak penemuan lain yang mengembangkan sistem elektro-kimia penyimpan listrik dan terus mengalami penyempurnaan.