Social Icons

Welcome!!

May 09, 2015

Penemu (Sejarah) Penangkal Petir

Benjamin Franklin - Penemu Penangkal Petir

Benjamin Franklin 

Benjamin Franklin lahir di Milk Street, Boston, Maasachushetts pada tahun 1706. Ben, begitu ia disapa adalah anak ke 15 dari 17 bersaudara. Ben adalah anak yang cerdas dan selalu ingin tahu. Pada umur 7 tahun ia bahkan telah membaca buku-buku berbobot. Pada tahun 1714 saat berusia 8 tahun, Ben dimasukkan di sekolah tata bahasa di Boston Latin School, sayangnya hanya setahun. Ben harus berhenti sekolah karena ayahnya tidak sanggup membayar biaya sekolah tersebut. Ia lalu pindah ke sekolah lain yang lebih murah.
Pindah sekolah tidak membuat Ben patah semangat. Di sekolah barunya, Ben tetap semangat belajar. Disela-sela waktu belajarnya, ia juga membantu bekerja di pabrik lilin milik ayahnya. Semangat belajar dan ketekunannya itulah yang kelak membuatnya dikenal sebagai tokoh yang memiliki serangkaian penemuan, salah satunya adalah penangkal petir.
Untuk dapat menemukannya, Ben harus melakukan eksperimen yang sangat berbahaya. Eksperimen itu ia lakukan pada tahun 1752. Ia menerbangkan layang-layang pada saat badai guntur. Ujung layang-layang itu diberinya batangan logam yang ujungnya runcing menghadap keatas. Logam ini segera saja menjadi tempat berkumpulnya muatan listrik dari awan. Muatan itu dihantarkan melalui benang yang basah oleh hujan dan mengumpul pada sebuah kunci logam yang diikatkan ke benang tersebut. Saat bejana Leyden didekatkan ke kunci logam, segera saja bejana itu penuh bermuatan listrik. Hasil dari eksperimen ini membawa Ben ke penemuan "Tongkat Franklin" atau lebih kita kenal sebagai "Penangkal Petir".

Percobaan Benjamin Franklin

percobaan Benjamin Franklin 

Ben memang anak yang cerdas. Ketika ia bekerja di percetakan milik kakaknya, diam-diam Ben menulis untuk koran kakaknya, New England Courant. Hal ini menimbulkan pertengkaran dengan James, kakaknya. Kemudian Ben meninggalkan rumah dan mencari penghidupan sendiri. Mula-mula ia di New York namun akhirnya pindah ke Philadelphia. Disana ia bekerja pada beberapa percetakan. Meski sulit, tapi ia berhasil hidup mandiri. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya di Philadelphia, Ben berhasil menjadi pengusaha yang sukses setelah mendirikan percetakan sendiri dan membeli koran Penzylvania Gazzete. Tak hanya itu, Ben juga menerbitkan almanak tahunan, Poor Richard's Almanac.
Poor Richard's Almanac 
Kesuksesannya itu membuat hari-hari Ben menjadi begitu menyenangkan. Pada umur 42 tahun ia telah berlimpah materi. Maka Ben pun menapaki karir barunya sebagai ilmuwan. Selama menjalani karir sebagai ilmuwan, sejumlah penemuan penting telah berhasil ditemukannya. Selain penangkal petir, Ben juga menemukan "Tungku Franklin" yaitu sebuah tungku perapian yang efisien dan aman dari bahaya kebakaran.
Tahun 1752 Ben menerima medali kehormatan dari Royal Society atas risetnya tentang listrik, hasil riset itu membawa Ben pada Hukum Kekekalan Muatan. Ben menyatakan bahwa listrik hanya ada satu jenis. Untuk menandai benda yang kelebihan atau kekurangan listrik, Ben menggunakan plus (+) dan minus (-). Kode itu tetap diterapkan hingga sekarang.

Benjamin Franklin pada lembaran 100 Dollar

Benjamin Franklin pada uang 100 Dollar
 Selain sebagai penemu, nama Benjamin Franklin juga terukir indah sebagai tokoh yang ikut berperan dalam kemerdekaan Amerika. Benjamin Franklin meninggal dunia pada usia 84 tahun, tepatnya pada 17 April 1790. Dua tahun sebelum meninggal (1788) ia menyelesaikan biografinya yang menjadi salah satu karya sastra terkenal dan tetap dibaca hingga sekarang.

Alasan Tonjolan pada huruf F dan J di keyboard

Ini alasan di balik pemberian tonjolan pada huruf F dan J di keyboard

Coba deh perhatikan lagi keyboard kamu. Di setiap keyboard pada komputer PC maupun laptop, pasti ada tonjolan kecil pada huruf F maupun J. Kenapa bisa gitu?

Tonjolan pada tombol huruf F dan J berawal pada tahun 1888 yang lalu, ketika Frank Edward McGurin menemukan metode touch typing, yakni cara mengetik tanpa melihat tombol di keyboard.
Lalu apa fungsinya? Dilansir brilio.net dari WikiSpaces, Jumat (8/5), fungsinya untuk membantu meningkatkan kemampuan dari touch typing itu sendiri. Sebab, tonjolan itu dapat membantu mereka mengidentifikasikan huruf yang dipencet tanpa perlu memperhatikan tombolnya pada keyboard.

di keyboard standar, deretan di bagian tengah terdapat huruf A, S, D, F, G, H, J, K, L, dan tanda :; (titik dua dan titik koma), serta "' (petik satu dan petik dua). Nah, huruf F sendiri, menurut McGurin adalah posisi yang paling tepat untuk meletakkan jari telunjuk kiri, sedangkan huruf J adalah tempat untuk meletakkan telunjuk kanan. Nah dengan bantuan tonjolan ini, para penulis dapat merasakan apakah jarinya diletakkan ditempat yang tepat saat mengetik, walaupun tanpa harus melihat di keyboard.
Modifikasi tombol F dan J ini kemudian dipatenkan oleh June E Botich dari Naples, Florida pada tahun 2002, sehingga panduan taktis ini menjadi standar di hampir semua keyboard di seluruh dunia. Nah, sekarang silakan dicoba untuk mengetik tanpa memperhatikan tombol di keyboard, melainkan cukup dengan merasakan tonjolan di huruf F dan J.